Perasaan yang tidak pernah sama sekali aku rasakan. Ntahlah rasanya sesuatu yang berbeda. Benarbenar kali pertama. Sungguh aneh, lucu, dan terkadang ngeselin. Aku, kamu dan dia bagaikan permainan yang sudah diatur. Sayang yang berbeda karena mereka. Tapi seketika aku berfikir bahwa tidaklah pantas rasanya. Bagiku begitu. Permainan yang sedang dimainkan bergumam denganku. Aku tau, tapi aku purapura bodoh. Karena aku tidak ingin lagi berfikir bodoh seperti yang sudah sudah. Katakanlah jika memang iya, namun katakanlah ketika hanya sementara dan permainan yang sedang dijalankan. Hujan hanya sementara, pelangi datang seketika, petir datang membara dan api akan panas seketika. Seperti itulah ibarat yang aku maksud. Aku tidak marah, karena aku yakin ini hanya datang seketika. Pelampiasan yang aku anggap, "yaa sudahlah, terserah." Bagiku itu mudah untuk mu. Mungkin aku masih dengan perasaan yang sama dengan orang yang sama. Sebenarnya perasaan sekarang tidaklah ada dan tidak hilang pula. Biasa saja, namun masih terpikir olehku. Mengapa cinta itu dapat berubah ubah(?) karena kamu belum menemukan sepenuhnya apa yang kamu cari. Bukan maksudku sombong, tapi kini yang ku rasa tidaklah cinta namun rasa yang masih penuh tanda tanya. Apa yang ku cari sehingga perasaan itu tetap ada, adalah apa yang aku inginkan di masa depan. Seorang imam yang kewajiban lima waktu ke rumahNya tidak pernah tertinggal. Standar dan syarat seorang ayah kepada anaknya. Bagiku apa yang ayah inginkan untukku kelak tidaklah rugi untukku. Islam, lima waktu. Karena kata ayah, seseorang yang tau masalah kewajiban lima waktu ke Masjid insha Allah tidak diragukan lagi. Dia tau agama, pasti tau cara menaklukan hati yang baik kepada sesama. Setelah aku pikir, sepertinya itu benar. Setiap melihat seorang lelaki mengerjakan tepat waktu ke Masjid, setiap itu pula hatiku tersentuh. Penakluk hati yang luar biasa. Banyak yang shalat lima waktu, tetapi jarang melakukan kewajiban yang sudah jelas jelas wajib untuk melakukannya di Masjid.
Aku, masih sedang berusaha memperbaiki diri. Karena tidak mungkin aku begitu egois ingin mendapatkan unta sedangkan aku masih belum setara dengan unta.
Tapi aku suka bingung mengapa ada yang melihat hanya dari luar, dari apa yang terlihat oleh mata mereka. Tidak bisakah melihat dengan benar benar melihat(?)
Maksudku yaa. Begitu.
Aku, mungkin suka melihat yang rupawan. Tapi itu tidaklah yang benar benar ku sukai. Mata menuju kepala, lalu telinga menuju hati. Bagiku begitu. Apa yang terlihat dipikirkan dulu baikbaik, lalu apa yang didengar oleh telinga, barulah hati yang dapat menilainya.
Itulah yang ku maksud dengan dari telinga menuju ke hati.
No comments:
Post a Comment